Menteri
Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir
menargetkan sebanyak 243 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) akan dinonaktifkan
hingga akhir tahun.
"Ada 243 PTS yang
dinonaktifkan, saat ini baru 119 perguruan tinggi yang masih berstatus
nonaktif, sedangkan sisanya akan terselesaikan pada akhir Desember 2015,"
katanya seusai menghadiri seminar 'Memperkuat Sinergi dan Integritasi
Pencapaian Excelent University Untuk Keunggulan Bangsa' di Unair Surabaya, Sabtu
(28/11).
Ia mengatakan, perguruan tinggi
yang dinonaktifkan saat ini sedang mengalami masalah, pertama rasio dosen dan
mahasiswa, kedua konflik antara yayasan dengan rektor, atau proses pembelajaran
yang tidak sesuai. "Perguruan tinggi yang telah nonaktif itu akan
dikelompokkan sesuai dengan masalahnya, kemudian akan dibina, sedangkan masalah
rasio dosen dan mahasiswa sudah tertera dalam peraturan menteri," kata
dia.
Menurut dia, rasio ideal dosen
dan mahasiswa untuk perguruan tinggi jurusan eksak 1:20 dan sosial 1:30,
sedangkan swasta untuk eksak 1:30 dan sosial 1:45, namun yang terjadi ada
1:100, 1:200 bahkan yang paling tinggi 1:750. "Peraturan masalah rasio
dosen dan mahasiswa ditandai dari dikeluarkannya Nomor induk dosen khusus
(NIDK), karena selama ini penghitungan rasio dosen dan mahasiswa basisnya dosen
yang memiliki nomor induk dosen nasional (NIDN)," katanya.
Lebih lanjut dia mengungkapkan,
perguruan tinggi yang dinonaktifkan paling banyak ditemukan di wilayah DKI
Jakarta, Jatim, Jabar dan Sumatra utara. Sekadar diketahui, saat ini PTS yang
berstatus nonaktif lima diantaranya berasal dari Surabaya, yaitu sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi (STIE) Yapan, STIE Artha Bodhi Iswara (ABI), STIE Pemuda,
Univesrsitas Teknologi Surabaya (UTS) dan Institut Teknologi Pembangunan
Surabaya (ITPS).
Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

0 komentar